Total Tayangan Halaman

Sabtu, 28 November 2009

Cerpen (Oh Kak Ilhamku....)

Baru saja adzan dzuhur berkumandang, Lila sudah terbirit-birit menuju kamar mandi
“Lho… Lil? Mau ngapain kamu buru-buru gitu? Kebelet yah? Cepetan yah kalo kamu mau pipisnya! Mamah mau istinja, lalu berwudhu nih…” cetus Mamahku yang cerewet
“Ngga’ Mah, Lila mau wudhu, mau sholat!” jawabku singkat lalu menerobos langsung ke kamar mandi
“Alhamdulillah… Kamu udah mau sholat Lil? Mamah seneng ngedengernya! Tapi Lil, kamu jangan terburu-buru, kamu harus inget, belum iqomat lho! Sholat sunnah aja dulu! Seperti Mamah biasanya…” ucap Mamahku yang kian cerewet
“BERES MAH….!!!” teriakku dari dalam kamar mandi menyudahi percakapan kami.

Baru aja aku keluar kamarku, Kakakku Via mulai menggodaku…
“Aduh seneng deh punya ade yang mulai insaf, nanti pasti kelak kamu bisa mendo’akan Kaka’mu yang cantik ini agar makin cantik deh…”
“Apa sih…? Kaka’… kamu tuh udah cantik, nanti kalo aku doain makin cantik mau secantik apa? Mau ngalahin Ratu Eli apa? Ga’ mungkin kan Ka’ aku minta do’a kaya’ gitu?”
“Wah… wah… wah… Selain kamu udah pinter sholat, kamu udah pinter ngerayu juga yah? Diajarin sama siapa sih kamu? Atau jangan-jangan…”
“Jangan-jangan apa Ka’??” tanyaku penuh rasa heran
“Jangan-jangan kamu udah punya cowo’ yah?” ledek Kak Via
“Ih… apa sih?” lalihku tersipu malu.


* * *

Aku turuni anak tangga satu persatu. Baru saja aku hampir sampai anak tangga terakhir menuju ruang makan, Mamah sudah mulai menggodaku…
“Pah, anak kita udah pada besar-besar kan Pah?”
“Iya Mah, memangnya kenapa?”
“Udah pada puber dong? Udah pada genit dong? Berarti udah bisa jatuh cinta dong Pah? Kalo Via kan udah kuliah, Danu juga udah semester akhir, tapi kalo yang masih SMP pantes ga’ Pah jatuh cinta?” Mamah menggodaku sambil melirik ke arahku yang mematung di tangga
“Yah jatuh cinta boleh aja sih Mah, tapi kalo sampai punya pacar, Papah ga’ setuju! Masih kecil kan Mah…”.
Aku mulai gemas dengan kondisi seperti ini. Aku yang berniat makan malam bersama keluarga menjadi tak selera. Aku balik lari menaiki anak tangga, menuju kamarku tersayang.
“Aduh… Mamah sih ngeledek Lila terus, Lila ngambek kan jadinya” tukas Kak Via mengejarku.

Kak Via mengetuk pintu kamarku dengan lembut sambil merayuku. Aku tak menjawab, apalagi membukakan pintu. Aku terus menangis di kamarku, memeluk guling, mematikan lampu, membiarkan hiasan dinding-dindingku yang berupa sticker lampu itu menyala satu persatu, terlihat sangat indah. Namun hatiku tetap saja galau, aku ga terima diolok-olok terus seperti ini.
Apa salah aku jatuh cinta? Apa salah aku sholat? Aku malu… Malu digoda terus seperti itu.

* * *

Baru beberapa langkah aku menginjakkan kakiku dipelataran sekolah, Desy udah teriak-teriak memanggilku. Dengan terengah-engah Desy menyampaikan suatu kabar yang sangat menggembirakan untukku, Kak Ilham kemarin menitip salamnya padaku. Dag dig dug jantungku berdebar kencang. Wajahku merah merona. Bagaimana Tidak? Kak Ilham, cowok pujaanku menitip salamnya padaku. Percaya tak percaya aku harus percaya, karena yang menyampaikan itu sahabat baikku sendiri. Jam istirahat aku lari terbirit-birit menuju ruang rohis, mencari kak Ilham tersayang. Oh… apa yang aku dapatkan? Kak Ilham tengah bertengger di depan pintu seraya menyambutku…
“Assalamu’alaikum Lila”
“Wa’alaikumsalam Ka’…” jawabku malu-malu
“Sudah kamu terima salamku?”. Aku mengangguk dengan manja, wajahku pucat, aku malu.
“Syukurlah… sahabatmu orang yang amanah” jawab Kak Ilham dengan senyumnya yang amat manis
“Ka’, seperti yang Kaka’ nasihatkan pada Lila, Lila sudah rajin sholat, rajin mengaji, rajin bersedekah, pokoknya rajin beribadah. Dan Lila juga ga’ lupa pesan Kaka’ kalo Lila melakukan itu semua hanya karena Allah… Tapi Lila juga ga’ lupa kalo Kaka’ pernah bilang Kaka’ akan sayang sama Lila kalo Lila melakukan itu semua…” ucapku malu-malu tak berani menatap mata indah Kak Ilham yang tengah berada dihadapanku. Kak Ilham hanya tersenyum. Lalu tertawa.
“Lila, sekarang Kaka’ sayang banget sama Lila, tidak terpaksa seperti janji Kaka’, Lila tau kenapa? Karena Lila itu anak yang manis dan penurut. Lila juga sayang kan sama Kaka’?”. Aku hanya terdiam kaku, tak ku sangka jawaban itu yang akan aku dapatkan. Kali ini aku mengangguk penuh rasa semangat. Lalu tiba-tiba aku terngiang kata-kata Papahku tempo hari…
“Tapi Ka’, kata Papah aku belum boleh pacaran dulu, mungkin kalo aku udah SMU atau kuliah baru boleh, aku bingung Ka’…” tuturku polos. Kak Ilham tertawa renyah, perutnya seperti ada yang menggelitik hebat. Aku bingung.
“Lila sayang… Kaka’ akan tunggu kamu sampai Papahmu mengizinkan, dan semoga Allah mengizinkan. Sekarang kamu kembali ke kelas, belajar yang rajin agar kamu pintar dan bisa masuk SMU favourite. Setiap pulang sekolah kalau tidak ada halangan Kaka’ akan mengantarmu sampai rumah, Kaka’ akan menjadi seorang Kaka’ yang melindungi Adiknya. Kaka’ sayang Lila… Assalamu’alaikum” pisah Kak Ilham meninggalkanku. Aku terpaku mendengar kata-kata itu, ‘sayang’, oh… betapa indahnya cinta yang telah Engkau berikan padaku Ya Khalik!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar